Sabtu, 11 Juli 2015

Pendidikan Abad 21 - Review

Pembelajaran Abad Ke-21 dan Transformasi Pendidikan
Oleh : Brimy Laksmana
http://edukasi101.com/innovated-pembelajaran-abad-ke-21-dan-transformasi-pendidikan/
Direview oleh : Tengku Novenia Yahya
NIM.1305112579

                Pendidikan merupakan tonggak utama dalam kehidupan manusia. Terciptanya kehidupan yang baik sesuai dengan rambu-rambu serta azas kemanusiaan tidak luput dari peran pendidikan. Dalam perkembangannya, pendidikan senantiasa mengalami perubahan. Hal ini disebabkan seiring dengan semakin berubahnya zaman yang ditandai dengan pesatnya kemajuan teknologi dan informasi. Dalam tulisan ini, penulis akan mengulas sebuah artikel berjudul “Pembelajaran Abad Ke-21 dan Transformasi Pendidikan” yang ditulis oleh Brimy Laksmana, seorang aktivis pendidikan yang merupakan Managing Director di PT. Edukasi Satu Nol Satu.
                Dalam artikelnya, Brimy memulai tulisannya dengan memaparkan kekhawatiran yang akan terjadi pada penghujung abad 21. Kekhawatiran ini diambil dari tulisan Prof. Michio Kaku, pengarang buku “Physics Of The Future” dan seorang pengajar di City University of New York, yaitu :
1.Prosesor komputer akan di semua benda di sekeliling kita (baju, meja, cermin, tempat tidur, tas, kaca mata,dll) bahkan bisa ditaruh di dalam tubuh manusia. Semua perangkat itu akan terhubung dengan internet sehingga bisa berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Melalui kondisi itu maka akan ada kendaraan tanpa supir, lingkungan virtual, hologram, dan kita bisa menggerakkan sesuatu dengan hanya berpikir.
2.Robot akan menjadi bagian dari kehidupan manusia dimana mereka akan banyak melakukan kerja untuk menggantikan tugas manusia.
3.Peta tubuh manusia sudah dapat digambarkan (DNA, Kromosom, Gen) sehingga manusia bisa lebih panjang umur dan menghadapi segala penyakit yang ada.
4.Kendaraan sudah tidak menyentuh darat, semua melayang dan tidak menggunakan bahan bakar cair lagi. Perjalanan ke bulan dan planet lain sudah dapat dilakukan.

Dari butir-butir di atas, jelas menunjukkan bahwa akan terjadi transformasi pola hidup umat manusia di penghujung abad 21. Artinya, dunia akan mengalami perubahan total. Pasar dunia akan menjadi global ketika semua orang dimanapun mereka berada bisa menjual barang kemanapun mereka mau tanpa harus meninggalkan lokasi usahanya, peluang menjadi besar namun persaingan dan kompetisi juga menjadi global baik secara individu, kelompok usaha maupun negara. Kuncinya ialah pemanfaatan kemajuan dan perkembangan teknologi.
Jika melihat negeri sendiri, Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk menjadi negara maju di penghujung abad 21. Hal ini didukung akan kayanya sumber daya alam yang dimiliki oleh Indonesia. Penelitian McKinsey Global Institute memperkirakan bahwa Indonesia yang saat ini menduduki posisi 16 besar kekuatan ekonomi dunia bisa menjadi peringkat 7 pada tahun 2030. Kekuatan ekonomi ini didukung oleh 113 juta tenaga kerja terampil yang bekerja di seluruh sektor ekonomi. Namun, pertanyaannya sekarang adalah apakah sistem pendidikan di Indonesia saat ini mampu mempersiapkan sumber daya manusia terampil yang akan mengisi peluang emas di penghujung abad 21? Jika berkaca pada realita pendidikan saat ini, maka Indonesia masih belum bisa bersaing dan kemungkinan besar belum mampu mengambil peluang ini karena masih minimnya sumber daya manusia yang berkualitas. Sumber daya manusia yang berkualitas diciptakan dari pendidikan yang berkualitas. Inilah PR bagi pendidikan di Indonesia.
Hal yang harus disadari ialah ketika dunia berubah maka pendidikan pun harus berubah. Pola pembelajaran harus berubah agar dunia pendidikan menjadi relevan dengan tantangan dan peluang yang terjadi di kehidupan nyata. Realita menunjukkan bahwa saat ini yang dibutuhkan oleh dunia kerja ialah kemampuan untuk bekerja sama dalam tim, kemampuan pemecahan masalah, kemampuan untuk mengarahkan diri, berpikir kritis, menguasai teknologi serta mampu berkomunikasi dengan efektif. Menurut Brilly, kemampuan-kemampuan tersebut adalah kemampuan abad 21 (21st Century Skills). Untuk mencapai kemampuan ini, maka perlu dilakukan transformasi pendidikan yang meliputi:
1.Kebijakan pendidikan. Dalam hal ini, kebijakan pendidikan harus menunjukkan arahan yang jelas mengenai tujuan dan target yang ingin dicapai serta cara untuk mencapainya. Kebijakan harus tetap fleksibel dan bisa diterapkan sesuai kondisi lokal. Kurikulum dan sistem penilaian, kurikulum sebagai acuan dalam pengembangan pembelajaran dan sistem penilaian harus sudah mengarah pada pola pembelajaran abad 21 yang lebih berpusat pada siswa.
2.Pengembangan kompetensi guru. Dalam hal ini guru sebagai motor terdepan dalam perubahan harus menjadi pihak pertama yang siap dalam proses perubahan ini. Guru harus mampu mengubah proses pembelajarannya dari yang tradisional berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa
3.Teknologi. Dalam hal ini integrasi teknologi dalam proses belajar merupakan sebuah keniscayaan, siswa harus diarahkan dan diberikan kesempatan yang sebesar-besarnya dalam mencari informasi sesuai dengan target pembelajaran. Proses belajar dengan teknologi sebetulnya sama dengan proses bekerja dalam kehidupan nyata yang selalu bersinggungan dengan teknologi, yang artinya proses pembelajaran menjadi relevan dengan proses kerja.
4.Riset dan evaluasi. Setiap proses apapun membutuhkan umpan balik untuk menyempurnakan sistemnya oleh karena itu evaluasi menjadi penting untuk melihat dampak keberhasilan dari setiap kebijakan. Riset menjadi penting agar kita selalu dalam kondisi aktual dalam pengembangan dunia pendidikan.
Empat cakupan transformasi pendidikan di atas bisa dilakukan oleh Indonesia jika implementasinya benar-benar sesuai dengan teori. Salah satu kelemahan yang dimiliki oleh Indonesia hingga saat ini ialah mengetahui teori yang benar tetapi sulit mengimplementasikannya dengan baik dalam kehidupan nyata. Padahal, di belahan bumi yang lain negara-negara di dunia sedang sibuk membenahi pendidikannya untuk siap menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada abad 21 seperti Amerika dan  Singapura. Jika Indonesia tidak segera membenahi pendidikannya maka Indonesia harus rela tertinggal dan makin terpuruk dari negara-negara lain.
Fakta lain yang tidak dapat kita pungkiri adalah di era digital informasi ini, anak-anak Indonesia menerima informasi yang berlimpah dari berbagai macam sumber informasi seperti TV, radio, majalah, koran dan internet. Informasi tersebut telah membentuk pemahaman awal terhadap berbagai konsep dan peristiwa di dunia ini sehingga membuat mereka menjadi kritis dalam menerima masukan, arahan atau pelajaran baru dari guru dan orang tua. Para guru dan orang tua saat ini menghadapi era transisi yang sangat luar biasa dan menghadapi tantangan yang besar dalam upaya membesarkan dan mendidik anak-anak, sebab generasi orang tua dan guru saat ini dibesarkan dalam sebuah era yang jauh berbeda dengan era anak-anak sekarang.
Menanggapi hal ini, guru harus paham benar akan perubahan budaya dan kebiasaan anak saat ini sehingga mampu mengembangkan pembelajaran yang tidak mematikan sikap kritis dan kreatifitas mereka, bahkan mendorong mereka untuk mengembangkan talenta yang mereka miliki. Kata kunci yang bisa digunakan dalam pembelajaran adalah “Engage” (Keterlibatan), proses pembelajaran harus melibatkan siswa sebagai subyek pembelajar bukan menjadi obyek yang pasif menerima pelajaran.
Untuk mengembangkan pembelajaran abad 21, guru harus memulai satu langkah perubahan yaitu merubah pola pembelajaran tradisional yang berpusat pada guru menjadi pola pembelajaran yang berpusat pada siswa. Pola pembelajaran yang tradisional bisa dipahami sebagai pola pembelajaran dimana guru banyak memberikan ceramah sedangkan siswa lebih banyak mendengar, mencatat dan menghafal.
Dalam artikelnya, Brimy mengajukan beberapa hal yang mampu mengembangkan pembelajaran abad 21, yaitu: 
1. Tugas Utama Guru Sebagai Perencana Pembelajaran
Sebagai fasilitator dan pengelola kelas maka tugas guru yang penting adalah dalam pembuatan RPP(Rancangan Perangkat Pembelajaran). RPP harus dibuat dengan baik dan detail serta mampu menjelaskan semua proses yang akan terjadi dalam kelas termasuk proses penilaian dan target yang ingin dicapai. Dalam menyusun RPP, guru harus mampu mengkombinasikan antara target yang diminta dalam kurikulum nasional, pengembangan kecakapan abad 21 atau karakter nasional serta pemanfaatan teknologi dalam kelas.
2. Memasukkan Unsur Berpikir Tingkat Tinggi (Higher Order Thinking)
Teknologi dalam hal ini khususnya internet akan sangat memudahkan siswa untuk memperoleh informasi dan jawaban dari persoalan yang disampaikan oleh guru. Untuk permasalahan yang bersifat pengetahuan dan pemahaman bisa dicari solusinya dengan sangat mudah dan ada kecenderungan bahwa siswa hanya menjadi pengumpul informasi. Oleh sebab itu, guru harus mampu memberikan tugas di tingkat aplikasi, analisa, evaluasi dan kreasi. Hal ini akan mendorong siswa untuk berpikir kritis dan membaca informasi yang mereka kumpulkan sebelum menyelasikan tugas dari guru.
3. Penerapan Pola Pendekatan dan Model Pembelajaran yang Bervariasi
Beberapa pendekatan pembelajaran seperti pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning), pembelajaran berbasis keingintahuan (Inquiry Based Learning) serta model pembelajaran silang (jigsaw) maupun model kelas terbalik (Flipped Classroom) dapat diterapkan oleh guru untuk memperkaya pengalaman belajar siswa (Learning Experience). Satu hal yang perlu dipahami bahwa siswa harus mengerti dan memahami hubungan antara ilmu yang dipelajari di sekolah dengan kehidupan nyata. Siswa harus mampu menerapkan ilmunya untuk mencari solusi permasalahan dalam kehidupan nyata. Hal ini yang membuat Indonesia mendapatkan peringkat rendah (64 dari 65 negara) dari nilai PISA di tahun 2012, siswa Indonesia tidak biasa menghubungkan ilmu dengan permasalahan kehidupan nyata.
4. Integrasi Teknologi
Sekolah yang memiliki siswa dan guru mempunyai akses teknologi yang baik harus mampu memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran. Siswa harus terbiasa bekerja dengan teknologi seperti layaknya orang yang bekerja. Seringkali guru mengeluhkan mengenai fasilitas teknologi yang belum mereka miliki. Hal yang harus diingat ialah pengembangan pembelajaran abad 21 bisa dilakukan tanpa unsur teknologi, namun yang terpenting adalah guru yang baik yang bisa mengembangkan proses pembelajaran yang aktif dan kolaboratif. Akan tetapi, guru tentu saja harus berusaha untuk menguasai teknologinya terlebih dahulu.
                Dari empat point di atas, penulis menambahkan satu point yang mungkin terlupakan oleh Brimy dalam artikelnya, yakni penguatan mental spiritual di sekolah. Sumber daya manusia yang berkualitas tidak hanya diciptakan dari kualitas akademik saja, akan tetapi juga harus didukung oleh mental spiritual yang kuat. Sebagus apapun tingkat kepintaran seorang individu, namun jika tidak diimbangi dengan spiritual yang mantap maka ilmunya pun tidak akan bermanfaat. Oleh sebab itu,spiritual merupakan pondasi utama yang dimiliki oleh tiap-tiap individu dan wajib mendapat tempat yang utama dalam pengembangan pendidikan terutama di abad 21.
Jika empat point yang diajukan oleh Brimy di atas ditambah dengan penguatan mental spiritual benar-benar dilaksanakan oleh elemen pendidik bangsa ini, maka masa depan pendidikan Indonesia akan cerah dan siap mengambil peluang emas pada penghujung abad 21. Sebab, perkembangan dan kemajuan teknologi tidak akan berarti jika tidak disokong oleh kualitas generasi emas. Generasi emas akan diciptakan melalui transformasi pendidikan ke arah yang lebih baik. Maka, tidak ada alasan lain bagi Indonesia untuk tidak segera berbenah dalam dunia pendidikan jika tidak ingin ketinggalan. Mari berbenah untuk pendidikan Indonesia lebih cerah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar..