Selasa, 20 September 2016

KKN Kebangsaan; 15 Warna, Satu Rasa di Pulau Bintan (Part 1)


            Memasuki bulan Mei tahun 2016. Mahasiswa/i semester 6 di kampusku sedang disibukkan dalam proses pendaftaran Kukterta (Kuliah Kerja Nyata). Dulu, di kampusku penyebutannya juga sama seperti kampus lain, KKN. Tapi 2 tahun belakangan terakhir namanya diganti menjadi Kukerta. Sama seperti mahasiswa lainnya, aku pun turut serta disibukkan dengan proses pendaftaran Kukerta secara online. Ini memang semester yang rasanya menguras tenaga! Baru aja riweh dengan proses Pemilihan Mahasiswa Berprestasi, sekarang harus riweh lagi dengan prosesi pendaftaran Kukerta. Tapi selow aja jalanin semuanya, bersyukur! Alhamdulillah…
Pendaftaran online Kukerta di kampusku dilakukan melalui website Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Riau. Tidak jarang websitenya eror karena banyak yang akses. Antara satu mahasiswa dengan mahasiswa lainnya pun seperti sedang lomba lari. Adu kecepatan akses internet untuk membuka portal dan adu kecepatan untuk berhasil mendaftar pada desa yang diinginkan. Setelah ikut berpacu via portal sama seperti teman yang lainnya, akhirnya namaku tercantum menjadi pendaftar Kukerta di Desa Pergam, Pulau Rupat, Kabupaten Bengkalis. Aku sengaja memilih lokasi kepulauan karena memang ingin lebih mengenal kehidupan masyarakat pesisir. Maklum, sejak kecil aku tinggal di daerah Riau daratan. Jadi ingin sekali rasanya merasakan kehidupan pesisir.
            Di sisi lain, sebenarnya sejak tahun 2015 aku sudah menargetkan harus bisa ikut KKN-K (Kuliah Kerja Nyata Kebangsaan). Meskipun begitu, aku harus tetap terdaftar dulu di Kukerta Reguler sebagai persiapan jika nanti misalnya tidak lulus seleksi KKN Kebangsaan. Keinginan untuk bisa bergabung di KKN Kebangsaan bukan tanpa motivasi. Banyaknya seniorku yang menjadi peserta KKN-K tahun 2015 yang kebetulan saat itu tuan rumah pelaksanaannya adalah Provinsi Riau menjadi motivasi bagiku untuk bisa menjadi salah satu delegasi UNRI di tahun 2016. Beberapa kali aku bolak-balik ke LPPM mencari tau informasi pendaftaran KKN-K 2016, tapi belum ada. Aku juga bertanya ke sana kemari terus mencari informasi dari senior atau pun teman-teman lain. Ternyata di penghujung Bulan Mei, pengumuman seleksi KKN-K di kampusku diumumkan. Uwo! Aku antusias menyambut kabar ini. Segera kuurus semua berkas untuk seleksi.
            Sekitar selang satu bulan, pengumuman peserta KKN-K 2016 dilampirkan via website LPPM UNRI. Alhamdulillah, Allah SWT takdirkan namaku tercantum di sana. Syukur, syukur! Betapa baiknya Allah menjadikanku salah satu dari 50 peserta se-UNRI yang terpilih. Di sisi lain kesyukuranku ini, beberapa teman-teman Kukerta ku di Desa Pergam sangat menyayangkan kelulusanku di KKN Kebangsaan. Ya, wajar. Sebab sebelumnya kami sudah sempat beberapa kali berkoordinasi dan bersilaturahmi via grup line yang dibuat khusus tim Desa Pergam. Ketika lulus KKN Kebangsaan, artinya Kukerta ku di Desa Pergam batal. Yap, artinya tim ini akan kehilanganku sebagai salah satu anggotanya. Aku memohon maaf ke teman-teman tim Desa Pergam karena tidak jadi satu tim pengabdian. Mereka pun memaklumi dan kami saling mendo’akan agar bisa saling sukses mengabdi meskipun tidak satu tim.
Ada beberapa nama dari FKIP yang dinyatakan lolos sebagai peserta KKN Kebangsaan dan namaku satu-satunya dari Pendidikan Fisika. Allah SWT Maha Baik! Salah satu targetanku di tahun 2015 tercapai di tahun ini. Impianku di tahun 2014 yang ingin kembali menginjakkan kaki di Kepulauan Riau akan diwujudkan Allah Swt di tahun ini. Ya, tuan rumah KKN-K 2016 adalah Provinsi Kepulauan Riau! Sebuah provinsi yang kaya potensi bahari dan menawarkan pesona maritime nan elok membuatku bertekad harus bisa mengunjunginya kembali. Di tahun 2014, aku menjejaki kaki di Kepulauan Riau sebagai delegasi Riau dalam kompetisi pidato remaja se-Sumatera. Tahun 2016 kembali Allah Swt mengirimku ke sana melalui KKN Kebangsaan. Alhamdulillah ala kulli hal …

Kamis, 30 Juni 2016

MAWAPRES Utama UR : Buah Penantian 1 Tahun, Perjuangan 3 Tahun (Part 2-selesai)


            Kurang lebih setelah dua minggu proses pemilihan Mawapres tingkat fakultas, selanjutnya akan dilaksanakan proses pemilihan Mawapres tingkat universitas. Berbeda dengan tahun 2015, kali ini hanya akan dilangsungkan penilaian berkas dan presentasi Karya Tulis Ilmiah. Tidak ada lagi sesi outbond, focus group discussion dan wawancara dengan psikolog seperti Pemilihan Mawapres di tahun 2015. Pasalnya, pihak kemahasiswaan di rektorat kekurangan dana. Entah benar atau tidak permasalahannya tentang dana, tapi ikuti saja aturan dari mereka.
            Sama seperti tahun 2015, dewan juri yang menilai KTI dan presentasinya ada empat orang ditambah dengan satu orang juri penilaian berkas administrasi bukti preetasi. Aku berharap juri di tahun lalu juga menjadi juri di tahun ini. Sebab, Karya Tulis Ilmiah yang kubuat adalah tantangan dari juri di tahun 2015. Namun, aku tidak menemukan wajah juri tersebut di tahun ini. But, it doesn’t matter. Bismillahirrahmanirrahiim, semoga para dewan juri pun menyukai Karya Tulis Ilmiah yang kubuat.
            Dalam rentang waktu dua minggu jeda antara seleksi tingkat fakultas dan universitas, aku mencoba untuk merevisi dan membaca ulang KTI ku. Memang tidak banyak yang direvisi, karena tidak banyak koreksian dari dewan juri saat seleksi di tingkat fakultas. Aku juga kembali memesan ke percetakan buku untuk mencetak buku PIL sebagai produk KTI ku. Karena kemarin aku hanya memesan sesuai jumlah dewan juri yang di tingkat fakultas saja.
            Bismillah, presentasi KTI tingkat universitas berlangsung pada tanggal 19-20 April 2016. Aku mendapatkan giliran tampil pada hari kedua dengan nomor urut 15. Alhamdulillah, presentasi berjalan dengan lancar. Respon dari dewan juri pun sangat bagus. Dari empat dewan juri yang menguji, tiga diantaranya memberikan komentar positif dengan kalimat semacam memberi kode bahwa aku akan menjadi pemenang dalam kompetisi ini.
“ Your presentation is very good . . . .”
“ I hope you will be the winner of this competition . . . “
“ Saya tidak memberikan komentar. Kamu sudah menampilkan yang terbaik. Good luck. . .”
            Aku lega dengan semua respon yang telah diberikan oleh dewan juri. Dari semua peserta yang sudah tampil, baru penampilanku yang diberi komentar seperti itu. Sempat ada rasa percaya diri bahwa aku akan menang dalam kompetisi tersebut. Namun, percaya diri saat itu goyah ketika penampilan undian terakhir juga mendapatkan respon yang sama dengan penampilanku. Muhammad Abrar, mahasiswa dari Program Studi Ilmu Keperawatan angkatan 2013 juga mampu menarik simpati para dewan juri lewat KTI nya tentang sandal yang dibuat dari biji buah para. Hah, serahkan saja semuanya pada Allah Swt…
            Setelah proses seleksi Mawapres berlalu, seperti biasanya akan ada jeda rentang waktu antara seleksi dengan penganugrahan. Dalam rentang waktu ini, panitia juga membuat sistem voting di media sosial (facebook) untuk pemilihan Mahasiswa Berprestasi Favorite. Masing-masing finalis saling berlomba mengajak rekan-rekannya untuk memberikan like pada foto yang diunggah panitia, termasuk aku. Aku mulai melakukan kampanye untuk vote ke semua grup media sosial yang kumiliki.
Acara penganugrahan kabarnya akan dilangsungkan pada tanggal 02 Mei 2016, bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional. Namun, ada kendala. Panitia dari pihak URC (Universitas Riau Cendekia) mengatakan bahwa tidak ada acara puncak penganugrahan seperti tahun sebelumnya. Permasalahannya klasik, pihak rektorat tidak memiliki dana untuk melangsungkan acara penganugrahan seperti tahun 2015 lalu. Kabarnya, pengumuman hasil Mawapres hanya akan diumumkan di lapangan upacara rektorat saat upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional. Yang diumumkan hanya Mawapres Utama, 2 dan 3 saja. Sedangkan dari pihak panitia URC dan dewan juri juga sudah mempersiapkan penghargaan untuk Mawapres Kategori Best KTI, Best Bahasa Asing dan Mawapres Favorite. Namun, rancangan proses penganugrahan yang telah dirancang panitia URC ditolak oleh pihak kemahasiswaan.

Jumat, 10 Juni 2016

Mengejar Sertifikat Nasional ke Kota Padang!

        


         Seperti biasanya, sebelum mulai mengerjakan tugas-tugas kuliah atau mengulang materi pembelajaran di kampus, aku menyempatkan diri untuk membuka halaman facebook. Kali ini bukan iseng baca timeline orang-orang di facebook. Tapi targetannya adalah “cari event tingkat nasional”! Ya, ini sudah Bulan April mendekati Mei. Seleksi awal tingkat nasional Pilmapres (Pemilihan Mahasiswa Berprestasi) 2016 akan mulai dilaksanakan. Aku masih punya waktu untuk mencari sertifikat nasional dari kegiatan nasional agar menjadi tambahan nilai ketika seleksi administrasi Pilmapres nasional nanti.
            Selang beberapa menit melihat-lihat halaman facebook, aha! Akhirnya aku menemukan sebuah pamflet berisi informasi pelatihan pemuda nasional. School for Nation Leaders. Begitu nama kegiatannya. Penyelenggaranya adalah Forum Negarawan Muda. Hmmm organisasinya bukan organisasi yang kukenal. Tapi, sepertinya ini kegiatan bagus. Ditambah lagi ada beberapa pilihan kota jika ingin mendaftar event ini. Kabar baiknya, salah satu kota di Pulau Sumatera masuk dalam daftar penyelenggara. Kota Padang! Wow, ini kesempatan bagus. Karena kalau misalnya aku lolos seleksi, maka kemungkinan biaya yang dikeluarkan tidak terlalu besar seperti saat kegiatan di Pulau Jawa. Insyaallah pihak kampus akan lebih berkenan untuk membantu.
Setelah membaca seluruh peraturan di pedoman websitenya, aku tekadkan untuk segera mendaftar dan melengkapi seluruh isian form pendaftaran. Secara umum, isian data yang diminta adalah data diri, prestasi dan pengalaman organisasi serta beberapa pertanyaan yang meminta jawaban berupa essay singkat. Kurang lebih 2 hari waktu yang kuhabiskan untuk fokus melakukan pendaftaran. Bismillahirrahmanirrahiim…
***

            Beberapa minggu berlalu pasca melakukan pendaftaran, akhirnya pengumuman pun tiba. Yeay! Namaku masuk dalam salah satu list peserta yang dinyatakan lolos dan berhak untuk mengikuti School for Nation Leaders pada tanggal 30 Mei-02 Juni 2016. Tidak hanya namaku, ada beberapa nama yang juga kukenal dinyatakan lolos sebagai peserta. Ada Bang Teguh Pambudi, Kak Nurjamaliah, Bang Harry Novar. Sederet nama yang kukenal itu memang termasuk event hunters. Good, ada teman! Next, aku segera mengurusi proposal permohonan bantuan dana ke Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Riau. Berbekal proposal yang sudah disediakan panitia, kuedit sedikit lalu aku coba usulkan proposal tersebut ke rektorat.
            Awalnya sempat was-was kalau gak bakal dapat bantuan dana partisipasi dari Kemahasiswaan Rektorat. Karena setauku sudah banyak mahasiswa FKIP yang menggunakan anggaran dana tersebut untuk mengikuti kegiatan/perlombaan ke luar. Tapi betapa beruntungnya aku saat itu. Benar saja, kalau sudah rezekinya insyaallah gak akan kemana. Sisa anggaran partisipasi mahasiswa saat itu kurang lebih Rp750.000. Saat kuminta Kak Dian (staff Kemahasiswaan) mengecek berapa anggaran untuk mahasiswa jika ingin ikut kegiatan di Pulau Sumatera, jawabannya adalah Rp750.000. Aha! Masya Allah.. Alhamdulillah, ini rezekiku. Tanpa proses terlalu panjang proposalku masuk ke meja Kabag Sarana dan Prasarana untuk diproses. Berselang seminggu, proposalku di ACC oleh Pak Syafrial, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan. Ini artinya aku mendapatkan bantuan untuk kegiatan ini. Alhamdulillah ala kulli hal …
***

Jumat, 20 Mei 2016

MAWAPRES Utama UR : Buah Penantian 1 Tahun, Perjuangan 3 Tahun (Part 1)

Tentang cita, perjuangan dan pengorbanan…
****


            Masih ingat ceritaku tahun lalu? Tentang Mawapres ; Seribu Cerita. Bisa dibaca kembali pada link ini : http://tengkunoveniayahya.blogspot.co.id/2015/05/mawapres-seribu-cerita-berjuta-makna_14.html .Benar kata orang-orang bahwa mimpi yang kita tuliskan, jika kita pelihara dan kita jaga pada akhirnya Tuhan akan memeluk mimpi tersebut menjadi nyata.

            Kekalahanku pada tahun 2015 pada kompetisi Mahasiswa Berprestasi Universitas Riau tahun 2015 lalu tidak membuatku patah semangat dan menyerah. Posisi ke-5 di tingkat universitas saat itu lantas tidak membuatku berhenti berjuang. Justru ia menjelma menjadi mimpi dan targetan baru yang harus aku capai di tahun 2016.

            Berbekal pengalaman di tahun 2015, aku kembali memberanikan diri untuk mencoba mengikuti pemilihan Mahasiswa Berprestasi Universitas Riau tahun 2016. Seperti biasa, ada beberapa tahap yang harus aku lalui, dimulai dari tingkat fakultas. Seperti biasa juga, bukan Novi namanya kalau mengerjakan sesuatu dengan persiapan dari jauh-jauh hari (red: selalu jadi dateliner). Maaf, yang ini adalah kebiasaan yang tidak baik untuk dicontoh :’) Tapi kata orang-orang sih namanya mahasiswa emang begitu, The Power of Kepepet :’)

            Jadi sebenarnya sejak semester ganjil 2015/2016, aku sudah mulai berpikir apa saja yang harus dipersiapkan seperti mulai gencar mengikuti kompetisi atau program ke luar kampus supaya mendongkrak nilai prestasi, kemudian mulai berpikir topik apa yang akan dijadikan Karya Tulis Ilmiah untuk mengikuti pemilihan mawapres nanti. Berbicara masalah prestasi, untuk ikut kompetisi sebenarnya sudah naluri sejak dulu. Bukan hanya semata-mata untuk dapetin mawapres sih, tapi memang rasanya kompetisi itu adalah kebutuhan yang harus dipenuhi untuk membuka wawasan lebih luas dan meng-upgrade potensi diri. Sejak semester ganjil aku juga sudah mulai berusaha mencari program atau international conference agar nanti di CV ku tertera prestasi internasional. Alhamdulillah di tahun 2015 ada dua LoA program internasional, yang satu ke Thailand dan satunya lagi ke Bangladesh. Tapi malangnya, kedua-duanya tidak jadi berangkat. Yang ke Thailand dikarenakan kendala dana (as you know lah kampus Universitas Riau masih minim perhatian untuk program seperti ini), dan yang ke Bangladesh acaranya dibatalkan karena di sana lagi ada konflik yang gak kunjung selesai. Alhasil, sepertinya Allah Swt belum mengizinkanku untuk menginjakkan kaki di luar negeri. Aku yakin, pasti ada rencana yang jauh lebih indah yang dipersiapkan-Nya untukku.


Sabtu, 05 Desember 2015

Pertemuan di Bawah Langit Semarang

“Pikiran kita mungkin tak mampu merekam tiap memori yang pernah kita lalui. Tapi setidaknya, tulisan mampu mengababadikan beberapa ingatan…”


            Holoaa, udah lama gak nulis di blog karena kesibukan di dunia nyata yang nyatanya memang susah dan teramat susah untuk ditinggalkan. Hehee.. Kebiasaanku ialah menceritakan setiap perjalanan yang aku lakukan. Entah itu perjalanan di Riau atau pun di luar Riau. Perjalanan yang kumaksudkan di sini ialah pergi ke suatu tempat untuk menunaikan suatu kewajiban dengan membawa sebuah misi.
            Oke, kali ini aku bakal cerita tentang salah satu perjalananku yang tidak kalah awesome dengan perjalanan sebelum-sebelumnya. Jadi, ceritanya sekitar dua bulan yang lalu ( ya ampun baru nyadar kalau udah lama banget ternyata haha) tepatnya tanggal 16-18 Oktober 2015 aku mengikuti Youth Media Festival 2015. Kalau misalnya kamu googling dengan hastag #YMF2015 pasti bakalan banyak info-info atau berita seputar YMF alias Youth Media Festival yang muncul. Apa itu YMF? YMF adalah sebuah kegiatan yang super duper kece yang diadakan oleh Youth Center PILAR(Pusat Informasi dan Layanan Remaja) PKBI, Jawa Tengah. Ini merupakan event tahunan yang rutin diadakan oleh PILAR untuk mempertemukan pemuda-pemuda inspiratif se-Indonesia. Kegiatannya berupa grand seminar dan kelas paralel. Aku bakal jelasin apa aja kegiatan selama di sana di next paragraph. Tetap lanjut baca ke bawah ya J
            Untuk menjadi peserta YMF ini ada dua jalur, yaitu jalur scholarship dan regular. Alhamdulillah setelah melalui proses seleksi pengiriman data dan dua artikel, aku lolos sebagai peserta scholarship. Peserta scholarship ini bebas dari biaya dan penginapan selama di Semarang, tapi flight ticket menuju Semarang ditanggung oleh masing-masing peserta. Nah, setelah dapat pengumuman lolos awalnya aku udah pesimis gak bakalan bisa berangkat ke Semarang. Kenapa? Ya apalagi kalau bukan masalah dana. Sebelumnya aku udah bolak-balik ke rektorat kampus buat ngajuin permohonan dana untuk program AISEF Loy Krathong di Thailand. Dari lebaran haji kemarin juga pas balik kampung aku udah pusing mikirin gimana dapetin dana buat bisa ke Thailand. Tapi hasilnya kampusku gak bisa ngasih biaya penuh buat ikut program ke Thai yang biayanya hampir mendekati 10juta-an, itu juga baru cuma buat fee registration plus flight ticket Indonesia-Thailand pulang pergi. Ya, waktu itu harga rupiah emang jatuh sejatuh-jatuhnya, menyentuh angka Rp15.000. Pihak dekanat FKIP juga gak mendukung untuk ikut program yang ke Thai ini, alasannya dana dari kampus gak ada. Keluarga juga gak terlalu mendukung karena biayanya emang mahal. Huaaaa pokoknya kalau ingat detik-detik ngajuin proposal buat ke Thailand itu bawaannya pengen nangis, kesabaran emang beneran diuji. Setelah mempertimbangkan semuanya dengan matang, akhirnya program ke Thai yang seharusnya aku ikuti di tanggal 22-27 November kemarin aku batalkan. Pasti Allah bakal ganti dengan yang lebih baik lagi nanti. Aamiin.
            Oke, back to the main topic. Gagal ke Thailand gak menyurutkan langkahku buat ngajuin proposal permohonan bantuan dana ke kampus buat ikutan YMF yang di Semarang ini. Alhamdulillah, tanpa membutuhkan proses yang terlalu rumit seperti sebelumnya pihak kampus mau membiayaiku untuk mengikuti program ini. Seharusnya, dari Riau ada 3 orang yang berangkat buat ikutan YMF ini. Tapi, karena yang satunya lagi ada agenda bersamaan di Jakarta jadinya dari Riau cuuma berangkat dua orang, aku dan salah seorang seniorku (kadisku tahun lalu,Kepala Dinas Kominfo BEM FKIP 14/15).
             Setelah dapat bantuan dari kampus, next minta restu sama mama. Alhamdulillah mama juga ngasih izin. Setelah dapat bantuan dana, kekhawatiran lain yang muncul adalah masalah bisa berangkat atau tidaknya ke Semarang, karena saat itu Riau lagi ng-trend dengan negeri khayangannya alias asap! Tapi, Alhamdulillah Allah Swt mempermudah perjalananku dengan menurunkan hujan yang lebat tepat sehari sebelum hari keberangkatan. Jadi, tepat tanggal 15 Oktober 2015 aku bisa terbang ke Semarang dengan lancar. Alhamdulilllah…  

Jumat, 11 September 2015

Melunasi Janji ke Tanah Deli


Ini tentang perjalanan yang sangat berkesan. Tentang sebuah janji yang dilunaskan…
***
            Dulu banyak rekan kerabat atau sahabat yang selalu bertanya, “Novi kapan main ke Medan?”. Aku hanya bisa tersenyum dan menjawab, “Do’akan segera, ya” . Maka, beberapa waktu yang lalu berhasil kutunaikan sebuah ucapan. Bukan sengaja untuk pergi berlibur, tapi untuk berkompetisi membawa amanah dari provinsi. Barangkali sambil wisata budaya untuk mendapatkan beberapa pelajaran di sana. Hehee.  
            Alhamdulillah tahun ini aku diamanahkan untuk menjadi salah satu delegasi Riau dalam lomba debat Pekan Bahasa se-Sumatera 2015. Sebelumnya, di tahun 2014 aku juga mengikuti ajang yang sama tetapi dalam cabang lomba yang berbeda. Masih ingat dengan tulisan ini http://tengkunoveniayahya.blogspot.co.id/2014/11/cerita-di-negeri-gurindam.html ? Ya, di bagian akhir dalam tulisan tersebut aku bertekad untuk bisa menjadi delegasi Riau kembali dalam Pekan Bahasa Sumatera. Sebab, saat tahun 2014 lalu masih ada rasa tidak puas dengan hasil yang aku dapatkan ketika mewakili Riau di cabang lomba pidato. Aku merasa masih harus melunasi hutang untuk bisa mengharumkan nama Riau. Jika tahun ini cabang lomba pidato hanya dikhususkan untuk siswa SMA, maka Allah Swt memilihkan cabang lomba debat sebagai jalanku untuk bisa melunasi tekad kembali membawa nama Riau.
            Ini semua berawal dari sebuah dendam. Dendam atas kekalahanku saat lomba debat mahasiswa dalam Pekan Bahasa Riau 2014 yang lalu. Saat itu aku bersama rekanku Kak Romi dan Kak Elysa kalah di babak penyisihan. Setahun berikutnya aku bersama rekanku Kak Romi dan Joni berhasil balas dendam dengan merebut juara 1 Debat Mahasiswa dalam Pekan Bahasa Riau 2015. Sayangnya, yang berhak menjadi delegasi Riau untuk maju ke tingkat regional Sumatera bukan tim juara 1, melainkan pembicara terbaik 1,2 dan 3. Alhamdulillah namaku dipercaya sebagai pembicara terbaik 1 dan berhak mewakili Riau di tingkat regional yang diadakan di Medan.
            Perjalanan ke Medan dimulai tanggal 22 Agustus 2015. Kali ini, aku bersama kontingen Riau yang terdiri dari peserta masing-masing cabang lomba dan ibu bapak pendamping dari Balai Bahasa Provinsi Riau harus menempuh perjalanan darat menggunakan bus selama kurang lebih 20 jam. Mungkin dikarenakan jumlah kontingen Riau yang banyak dan Medan masih bisa dijangkau melalui darat, maka bus menjadi transportasi yang mengantarkan kami ke Kota Deli tersebut.
            Tiba di Medan pada hari Minggu siang, sekitar pukul 13.00 WIB. Hotel Inna Dharma Deli Medan menjadi pusat kegiatan Pekan Bahasa Sumatera 2015 sekaligus tempat seluruh peserta menginap. Pertama kali melihat hotel ini aku sempat berpikir,”Waah kayaknya hotel tua”. Bangunannya tinggi menjulang seperti gedung pencakar langit lainnya, jauh berbeda jika dibandingkan dengan Grand Aston yang tepat berada di sampingnya. Aku langsung ingat setahun yang lalu di Hotel Aston saat di Tanjung Pinang, ternyata di Medan juga ada Aston. Hehee ..
            Acara pembukaan dilaksanakan Hari Senin, 24 September 2015 dan dimulai pukul 09.00-10.00 WIB. Kemudian dilanjutkan dnegan seminar kebahasaan dan kesastraan. Ya, agendanya hampir serupa dengan setahun yang lalu. Kendati demikian, tetap seminar ini mampu menggugah rasa ingin tahuku tentang bahasa, sastra dan budaya bangsa Indonesia. Terlebih ketika pemateri seminar memperlihatkan beberapa bentuk sastra lisan yang ada di Indonesia. Aku sempat merinding karena decak kagum atas keunikan ragam budaya Indonesia. Ini salah satu bagian yang aku suka, dengan mengikuti kegiatan-kegiatan semacam ini membuat diri semakin sadar betapa beruntungnya menjadi bagian dari Indonesia.

Senin, 10 Agustus 2015

Kenapa Harus Fisika?


Novi, kenapa kok ngambil jurusan Pendidikan Fisika?
Kok gak ngambil jurusan sastra atau bahasa aja,Nov? Kan basicnya Novi di situ.
Nov, kok gak ngambil ilmu komunikasi aja? Kan suka debat. Bagusan masuk ilkom. Atau ambil jurusan hukum.
Kenapa gak ambil jurusan HI aja,Nov? Atau sastra Inggris supaya bahasa Inggrisnya lebih terasah.
Novi ni kalau ada lomba-lomba debat atau lomba seni cepat nyerobotnya. Coba aja kalau lomba yang berhubungan sama Fisika, pasti jarang ikut!
. . . . .
            Beberapa pertanyaan dan kalimat di atas sudah biasa terdengar di telingaku. Tidak jarang orang-orang bertanya dan berkata demikian. Bahkan orang yang baru mengenaliku pun tak jarang bertanya seperti itu. Saat mengikuti beberapa kali lomba seni dan sastra tak jarang peserta lain terkejut ketika mereka bertanya aku dari jurusan apa dan aku menjawab dengan mantap “Pendidikan Fisika”!
            Baiklah, melalui tulisan ini aku akan menjelaskan kenapa aku mengambil program studi Pendidikan Fisika sebagai pilihan untuk melanjutkan studi setelah tamat dari SMA. Dari awal aku menegaskan bahwa aku tidak salah ambil jurusan. Percayalah, jurusan ini murni pilihanku sendiri tanpa ada paksaan dari siapapun. Bahkan ketika mendaftar SNMPTN pun Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Riau adalah pilihan pertamaku. Menyusul Fisika FMIPA Universitas Riau menjadi pilihan kedua. Alhamdulillah, Allah Swt meletakkanku di pilihan yang pertama J
Memang tidak dapat dipungkiri, sejak kecil bakatku adalah di dunia seni dan sastra. Saat masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak aku termasuk kategori murid yang tidak pernah absen mengikuti tari. Saat duduk di bangku Sekolah Dasar pun lomba yang sering kuikuti ialah lomba mewarnai, tari, bercerita, baca puisi. Beberapa prestasi di bidang seni dan sastra pun pernah Allah berikan sejak di bangku SD, hingga saat ini. Alhamdulillah.
            Menyukai dunia seni dan sastra bukan berarti aku tidak menyukai jurusan yang kini aku jalani. Ya, Fisika. Sebenarnya sejak SD pun aku sudah memiliki ketertarikan dengan Sains. Cuma entah kenapa saat SD bakat Sainsku tidak dikembangkan melalui perlombaan seperti seni dan sastra. Mungkin dikarenakan keterbatasan fasilitas sekolah dan guru di sekolah. Tapi, ketika duduk di bangku SMP alhamdulillah guru Fisikaku mengembangkannya dengan mendaftarkanku mengikuti olimpiade Fisika. Waktu SMA pun aku pernah beberapa kali mengikuti Olimpiade Fisika. Ya walau pun prestasinya tidak seberapa, setidaknya aku pernah mencoba dan pernah mencicipi beberapa kompetisi Sains.

Selasa, 28 Juli 2015

Explore Katobung!

Bismillahhirrahmanirrahiim..
Tulisan ini kuabadikan dalam blog ini karena banyak teman-teman yang nanya pas aku pasang DP waktu lagi jalan-jalan di Katobung, karena masih banyak yang belum tau tempat ini. Sekalian buat promosiin salah satu wisata yang gak jauh dari Rohul juga J Cekidot yaah.. Maafkan jika di dalamnya terdapat tulisan-tulisan yang tidak bermanfaat. Sayang kalau ada penggalan dialog yang tidak diabadikan hahahhaa ^_^
























Usai acara reuni akbar SMA kemarin(25 Juli 2015) tercetuslah ide dari salah seorang sahabatku, Icha untuk jalan-jalan ke air terjun yang dekat Tangun. Tapi bukan Aek Matua. Karena selama ini air terjun yang selalu dihandalkan di Kabupaten Rokan Hulu ialah AM(Aek Matua) (walau pun demikian aku belum pernah ke Aek Matua lho.. Hikss L ) .
            Awalnya sekitar 15 orang dari panitia angkatan 2013 yang akan ikut besok pagi (Minggu, 26 Juli 2015) ke Air Terjun Katobung. Tapi, entah kenapa pas pada hari H yang berkumpul di rumah Icha sesuai kesepakatan kemarin hanya ada 7 orang. Aku, Icha, Eza, Garin, Awi, Yasin dan Pino. Padahal itu udah molor dari jadwal keberangkatan yang disepakati. Awalnya janji kumpul pukul 9 pagi. Akhirnya berangkat sekitar pukul setengah 12. Walau pun Cuma bertujuh, never mind. Let’s start this adventure!
            Berangkat dari Kota Pasir Pengarayan pukul 11.30, kami tiba di Kecamatan Bangun Purba pukul 12.00. Sebenarnya gak tau jalan ke Katobung itu gimana, maka jadilah kami singgah dulu ke rumah Vutri yang rumahnya persis di depan simpang Aek Matua. Awalnya Vutri berencana ikut, dan direncanakan dialah yang akan menjadi guide kami untuk ke Katobung. Tapi karena ada kendala, dia tidak jadi ikut. Kami singgah ke rumahnya untuk menanyakan jalan menuju Katobung. Setelah merasa mendapat petunjuk yang cukup, kami melanjutkan perjalanan.

Sabtu, 11 Juli 2015

Pendidikan Abad 21 - Review

Pembelajaran Abad Ke-21 dan Transformasi Pendidikan
Oleh : Brimy Laksmana
http://edukasi101.com/innovated-pembelajaran-abad-ke-21-dan-transformasi-pendidikan/
Direview oleh : Tengku Novenia Yahya
NIM.1305112579

                Pendidikan merupakan tonggak utama dalam kehidupan manusia. Terciptanya kehidupan yang baik sesuai dengan rambu-rambu serta azas kemanusiaan tidak luput dari peran pendidikan. Dalam perkembangannya, pendidikan senantiasa mengalami perubahan. Hal ini disebabkan seiring dengan semakin berubahnya zaman yang ditandai dengan pesatnya kemajuan teknologi dan informasi. Dalam tulisan ini, penulis akan mengulas sebuah artikel berjudul “Pembelajaran Abad Ke-21 dan Transformasi Pendidikan” yang ditulis oleh Brimy Laksmana, seorang aktivis pendidikan yang merupakan Managing Director di PT. Edukasi Satu Nol Satu.
                Dalam artikelnya, Brimy memulai tulisannya dengan memaparkan kekhawatiran yang akan terjadi pada penghujung abad 21. Kekhawatiran ini diambil dari tulisan Prof. Michio Kaku, pengarang buku “Physics Of The Future” dan seorang pengajar di City University of New York, yaitu :
1.Prosesor komputer akan di semua benda di sekeliling kita (baju, meja, cermin, tempat tidur, tas, kaca mata,dll) bahkan bisa ditaruh di dalam tubuh manusia. Semua perangkat itu akan terhubung dengan internet sehingga bisa berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Melalui kondisi itu maka akan ada kendaraan tanpa supir, lingkungan virtual, hologram, dan kita bisa menggerakkan sesuatu dengan hanya berpikir.
2.Robot akan menjadi bagian dari kehidupan manusia dimana mereka akan banyak melakukan kerja untuk menggantikan tugas manusia.
3.Peta tubuh manusia sudah dapat digambarkan (DNA, Kromosom, Gen) sehingga manusia bisa lebih panjang umur dan menghadapi segala penyakit yang ada.
4.Kendaraan sudah tidak menyentuh darat, semua melayang dan tidak menggunakan bahan bakar cair lagi. Perjalanan ke bulan dan planet lain sudah dapat dilakukan.

Jumat, 26 Juni 2015

Terima Kasih Keluarga Pendidikan Mengabdi...

Tulisan ini kupersembahkan untuk kalian yang pernah menjadi pelengkap jalan cerita hidupku…
Sekre juang yang menyimpan banyak cerita tentang KPM

“Jadi surat pengajuan untuk aktif kembalinya gak bisa diajukan lagi,Bang?”
“ Gak bisa dek. Udah terlalu telat. Besok pagi kita udah sidang Paripurna”
Baiklah, dengan penuh keyakinan dan keteguhan sidang esok pagi pasti bisa dilalui. Walau pun tanpa Kepala Dinas yang biasanya selalu jadi kapten terdepan dalam menjawab semua pertanyaan yang berkaitan dengan dinas ini. Yakin, semuanya akan baik-baik saja. Insya Allah...
***         
Sabtu, 20 Juni 2015, sebuah lembaga eksekutif mahasiswa FKIP Universitas Riau itu disidang oleh beberapa mahasiswa yang menjadi utusan dari himanya masing-masing. Keluarga Pendidikan Mengabdi, demikian sebutan selama ini yang kami gaungkan untuk sebutan Badan Eksekutif Mahasiswa FKIP Universitas Riau. Meski tidak sebanyak 70 orang yang hadir sebagaimana yang terstruktur pada SK, sidang yang bertepatan dengan hari ke-3 Ramadhan itu tetap berlangsung.
Dimulai dengan agenda-agenda seperti pada sidang biasanya, akhirnya tibalah sesi penyidangan itu. Mahasiswa-mahasiswa sibuk melontarkan pertanyaannya terkait program kerja yang kami susun dan bagaimana aktualisasinya selama kurang lebih satu tahun kepengurusan ini. Jantung semakin tidak karuan, gelisah, sedih semua campur aduk. Bukan karena takut dihantam habis-habisan dengan pertanyaan-pertanyaan dari peserta sidang. Bukankah selama ini juga sudah terbiasa berdebat dalam perlombaan? Lalu bagaimana mungkin untuk menghadapi sidang ini tidak siap? Pikirku. Tapi ayolah, ini bukan perdebatan, ini bukan lomba debat! Jadi bersikap biasa sajalah ketika menjawab pertanyaan dari mereka. Hatiku menguatkan. Baiklah, aku akan berusaha menjawab semuanya nanti dengan tenang.
“ Kenapa SKS(Silaturahmi Kelembagaan Se-FKIP ini dihapuskan? Kok kayaknya laporan yang tertulis di LPJ ini seolah-olah BEM FKIP menyalahkan hima-hima yang tidak aktif? Seharusnya Dinas Kominfo itu bertindak untuk mengaktifkan hima-hima, bukan menyalahkan..”
“Saya mau tanya, kenapa penilaian mading itu dihapuskan? Terus untuk penilaian hima ter-update juga kenapa dihapuskan?”
“ Pengunjung blog BEM FKIP itu banyak. Apakah Dinas Kominfo yakin dari banyaknya pengunjung itu adalah mahasiswa/i FKIP?”
“Oh iya, kalau dilihat di dinding Facebook BEM FKIP itu sangat banyak hima-hima yang ng tag postingannya. Kalau menurut saya itu nyampah. Apa sebaiknya gak disaring informasi yang ditag? Atau gimana tanggapan Dinas Kominfo”
Bla bla bla sederet pertanyaan lainnya ikut terlontar…
Pelan-pelan aku berusaha menjawab semuanya dan menjelaskannya semampuku, dibantu dengan kasubdin pers, Kak Monika Eka Yulianda. Ingat, ini bukan debat ya! Jadi jawabnya selo aja Novi. Selalu ada bisikan dari dalam hati yang mengingatkan.
Baiklah, semua pertanyaan terjawab sudah. Sedikit lega, tapi justru sedih yang dirasa.
“ Dek, kok Kakak rasanya mau nangis ya?”