Senin, 10 Agustus 2015

Kenapa Harus Fisika?


Novi, kenapa kok ngambil jurusan Pendidikan Fisika?
Kok gak ngambil jurusan sastra atau bahasa aja,Nov? Kan basicnya Novi di situ.
Nov, kok gak ngambil ilmu komunikasi aja? Kan suka debat. Bagusan masuk ilkom. Atau ambil jurusan hukum.
Kenapa gak ambil jurusan HI aja,Nov? Atau sastra Inggris supaya bahasa Inggrisnya lebih terasah.
Novi ni kalau ada lomba-lomba debat atau lomba seni cepat nyerobotnya. Coba aja kalau lomba yang berhubungan sama Fisika, pasti jarang ikut!
. . . . .
            Beberapa pertanyaan dan kalimat di atas sudah biasa terdengar di telingaku. Tidak jarang orang-orang bertanya dan berkata demikian. Bahkan orang yang baru mengenaliku pun tak jarang bertanya seperti itu. Saat mengikuti beberapa kali lomba seni dan sastra tak jarang peserta lain terkejut ketika mereka bertanya aku dari jurusan apa dan aku menjawab dengan mantap “Pendidikan Fisika”!
            Baiklah, melalui tulisan ini aku akan menjelaskan kenapa aku mengambil program studi Pendidikan Fisika sebagai pilihan untuk melanjutkan studi setelah tamat dari SMA. Dari awal aku menegaskan bahwa aku tidak salah ambil jurusan. Percayalah, jurusan ini murni pilihanku sendiri tanpa ada paksaan dari siapapun. Bahkan ketika mendaftar SNMPTN pun Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Riau adalah pilihan pertamaku. Menyusul Fisika FMIPA Universitas Riau menjadi pilihan kedua. Alhamdulillah, Allah Swt meletakkanku di pilihan yang pertama J
Memang tidak dapat dipungkiri, sejak kecil bakatku adalah di dunia seni dan sastra. Saat masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak aku termasuk kategori murid yang tidak pernah absen mengikuti tari. Saat duduk di bangku Sekolah Dasar pun lomba yang sering kuikuti ialah lomba mewarnai, tari, bercerita, baca puisi. Beberapa prestasi di bidang seni dan sastra pun pernah Allah berikan sejak di bangku SD, hingga saat ini. Alhamdulillah.
            Menyukai dunia seni dan sastra bukan berarti aku tidak menyukai jurusan yang kini aku jalani. Ya, Fisika. Sebenarnya sejak SD pun aku sudah memiliki ketertarikan dengan Sains. Cuma entah kenapa saat SD bakat Sainsku tidak dikembangkan melalui perlombaan seperti seni dan sastra. Mungkin dikarenakan keterbatasan fasilitas sekolah dan guru di sekolah. Tapi, ketika duduk di bangku SMP alhamdulillah guru Fisikaku mengembangkannya dengan mendaftarkanku mengikuti olimpiade Fisika. Waktu SMA pun aku pernah beberapa kali mengikuti Olimpiade Fisika. Ya walau pun prestasinya tidak seberapa, setidaknya aku pernah mencoba dan pernah mencicipi beberapa kompetisi Sains.

Selasa, 28 Juli 2015

Explore Katobung!

Bismillahhirrahmanirrahiim..
Tulisan ini kuabadikan dalam blog ini karena banyak teman-teman yang nanya pas aku pasang DP waktu lagi jalan-jalan di Katobung, karena masih banyak yang belum tau tempat ini. Sekalian buat promosiin salah satu wisata yang gak jauh dari Rohul juga J Cekidot yaah.. Maafkan jika di dalamnya terdapat tulisan-tulisan yang tidak bermanfaat. Sayang kalau ada penggalan dialog yang tidak diabadikan hahahhaa ^_^
























Usai acara reuni akbar SMA kemarin(25 Juli 2015) tercetuslah ide dari salah seorang sahabatku, Icha untuk jalan-jalan ke air terjun yang dekat Tangun. Tapi bukan Aek Matua. Karena selama ini air terjun yang selalu dihandalkan di Kabupaten Rokan Hulu ialah AM(Aek Matua) (walau pun demikian aku belum pernah ke Aek Matua lho.. Hikss L ) .
            Awalnya sekitar 15 orang dari panitia angkatan 2013 yang akan ikut besok pagi (Minggu, 26 Juli 2015) ke Air Terjun Katobung. Tapi, entah kenapa pas pada hari H yang berkumpul di rumah Icha sesuai kesepakatan kemarin hanya ada 7 orang. Aku, Icha, Eza, Garin, Awi, Yasin dan Pino. Padahal itu udah molor dari jadwal keberangkatan yang disepakati. Awalnya janji kumpul pukul 9 pagi. Akhirnya berangkat sekitar pukul setengah 12. Walau pun Cuma bertujuh, never mind. Let’s start this adventure!
            Berangkat dari Kota Pasir Pengarayan pukul 11.30, kami tiba di Kecamatan Bangun Purba pukul 12.00. Sebenarnya gak tau jalan ke Katobung itu gimana, maka jadilah kami singgah dulu ke rumah Vutri yang rumahnya persis di depan simpang Aek Matua. Awalnya Vutri berencana ikut, dan direncanakan dialah yang akan menjadi guide kami untuk ke Katobung. Tapi karena ada kendala, dia tidak jadi ikut. Kami singgah ke rumahnya untuk menanyakan jalan menuju Katobung. Setelah merasa mendapat petunjuk yang cukup, kami melanjutkan perjalanan.

Sabtu, 11 Juli 2015

Pendidikan Abad 21 - Review

Pembelajaran Abad Ke-21 dan Transformasi Pendidikan
Oleh : Brimy Laksmana
http://edukasi101.com/innovated-pembelajaran-abad-ke-21-dan-transformasi-pendidikan/
Direview oleh : Tengku Novenia Yahya
NIM.1305112579

                Pendidikan merupakan tonggak utama dalam kehidupan manusia. Terciptanya kehidupan yang baik sesuai dengan rambu-rambu serta azas kemanusiaan tidak luput dari peran pendidikan. Dalam perkembangannya, pendidikan senantiasa mengalami perubahan. Hal ini disebabkan seiring dengan semakin berubahnya zaman yang ditandai dengan pesatnya kemajuan teknologi dan informasi. Dalam tulisan ini, penulis akan mengulas sebuah artikel berjudul “Pembelajaran Abad Ke-21 dan Transformasi Pendidikan” yang ditulis oleh Brimy Laksmana, seorang aktivis pendidikan yang merupakan Managing Director di PT. Edukasi Satu Nol Satu.
                Dalam artikelnya, Brimy memulai tulisannya dengan memaparkan kekhawatiran yang akan terjadi pada penghujung abad 21. Kekhawatiran ini diambil dari tulisan Prof. Michio Kaku, pengarang buku “Physics Of The Future” dan seorang pengajar di City University of New York, yaitu :
1.Prosesor komputer akan di semua benda di sekeliling kita (baju, meja, cermin, tempat tidur, tas, kaca mata,dll) bahkan bisa ditaruh di dalam tubuh manusia. Semua perangkat itu akan terhubung dengan internet sehingga bisa berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Melalui kondisi itu maka akan ada kendaraan tanpa supir, lingkungan virtual, hologram, dan kita bisa menggerakkan sesuatu dengan hanya berpikir.
2.Robot akan menjadi bagian dari kehidupan manusia dimana mereka akan banyak melakukan kerja untuk menggantikan tugas manusia.
3.Peta tubuh manusia sudah dapat digambarkan (DNA, Kromosom, Gen) sehingga manusia bisa lebih panjang umur dan menghadapi segala penyakit yang ada.
4.Kendaraan sudah tidak menyentuh darat, semua melayang dan tidak menggunakan bahan bakar cair lagi. Perjalanan ke bulan dan planet lain sudah dapat dilakukan.

Jumat, 26 Juni 2015

Terima Kasih Keluarga Pendidikan Mengabdi...

Tulisan ini kupersembahkan untuk kalian yang pernah menjadi pelengkap jalan cerita hidupku…
Sekre juang yang menyimpan banyak cerita tentang KPM

“Jadi surat pengajuan untuk aktif kembalinya gak bisa diajukan lagi,Bang?”
“ Gak bisa dek. Udah terlalu telat. Besok pagi kita udah sidang Paripurna”
Baiklah, dengan penuh keyakinan dan keteguhan sidang esok pagi pasti bisa dilalui. Walau pun tanpa Kepala Dinas yang biasanya selalu jadi kapten terdepan dalam menjawab semua pertanyaan yang berkaitan dengan dinas ini. Yakin, semuanya akan baik-baik saja. Insya Allah...
***         
Sabtu, 20 Juni 2015, sebuah lembaga eksekutif mahasiswa FKIP Universitas Riau itu disidang oleh beberapa mahasiswa yang menjadi utusan dari himanya masing-masing. Keluarga Pendidikan Mengabdi, demikian sebutan selama ini yang kami gaungkan untuk sebutan Badan Eksekutif Mahasiswa FKIP Universitas Riau. Meski tidak sebanyak 70 orang yang hadir sebagaimana yang terstruktur pada SK, sidang yang bertepatan dengan hari ke-3 Ramadhan itu tetap berlangsung.
Dimulai dengan agenda-agenda seperti pada sidang biasanya, akhirnya tibalah sesi penyidangan itu. Mahasiswa-mahasiswa sibuk melontarkan pertanyaannya terkait program kerja yang kami susun dan bagaimana aktualisasinya selama kurang lebih satu tahun kepengurusan ini. Jantung semakin tidak karuan, gelisah, sedih semua campur aduk. Bukan karena takut dihantam habis-habisan dengan pertanyaan-pertanyaan dari peserta sidang. Bukankah selama ini juga sudah terbiasa berdebat dalam perlombaan? Lalu bagaimana mungkin untuk menghadapi sidang ini tidak siap? Pikirku. Tapi ayolah, ini bukan perdebatan, ini bukan lomba debat! Jadi bersikap biasa sajalah ketika menjawab pertanyaan dari mereka. Hatiku menguatkan. Baiklah, aku akan berusaha menjawab semuanya nanti dengan tenang.
“ Kenapa SKS(Silaturahmi Kelembagaan Se-FKIP ini dihapuskan? Kok kayaknya laporan yang tertulis di LPJ ini seolah-olah BEM FKIP menyalahkan hima-hima yang tidak aktif? Seharusnya Dinas Kominfo itu bertindak untuk mengaktifkan hima-hima, bukan menyalahkan..”
“Saya mau tanya, kenapa penilaian mading itu dihapuskan? Terus untuk penilaian hima ter-update juga kenapa dihapuskan?”
“ Pengunjung blog BEM FKIP itu banyak. Apakah Dinas Kominfo yakin dari banyaknya pengunjung itu adalah mahasiswa/i FKIP?”
“Oh iya, kalau dilihat di dinding Facebook BEM FKIP itu sangat banyak hima-hima yang ng tag postingannya. Kalau menurut saya itu nyampah. Apa sebaiknya gak disaring informasi yang ditag? Atau gimana tanggapan Dinas Kominfo”
Bla bla bla sederet pertanyaan lainnya ikut terlontar…
Pelan-pelan aku berusaha menjawab semuanya dan menjelaskannya semampuku, dibantu dengan kasubdin pers, Kak Monika Eka Yulianda. Ingat, ini bukan debat ya! Jadi jawabnya selo aja Novi. Selalu ada bisikan dari dalam hati yang mengingatkan.
Baiklah, semua pertanyaan terjawab sudah. Sedikit lega, tapi justru sedih yang dirasa.
“ Dek, kok Kakak rasanya mau nangis ya?”

Sabtu, 30 Mei 2015

Kertas Pusaka : Siapa Novi Bagi Mereka?


Mataku tertuju pada selembar kertas yang terpampang di dinding kamar. Kertas yang bagiku lebih dari sekedar kertas biasa. Surat cinta? Bukan! Ini tentang komentar mereka terhadap seorang Tengku Novenia Yahya. Mereka yang kukenal tepat sekitar dua tahun yang lalu. Mereka yang telah banyak memberikan warna baru dalam hidupku sejak hari pertama menginjakkan kaki di kampus hingga detik ini. Mereka yang selalu bilang aku pesek padahal sebenarnya ini hidung gak pesek(cuma kurang mancung aja). Mereka yang selalu bilang aku kecil(padahal gak kecil sih, cuma mungil). Mereka yang hobi manggil aku Nove atau Nope atau Nopesek(padahal dari awal masuk kuliah aku udah bilang kalau nama panggilanku Novi).  Mereka yang sifatnya beraneka ragam kayak nano-nano tetapi selalu kompak dan utuh alam sebuah nama keluarga. Ya, merekalah keluargaku.  Keluarga Pendidikan Fisika 2013…
Jadi ceritanya sekitar 2 bulan yang lalu pas dosen lagi gak masuk, ada ide dari entah siapa(yang jelas masih salah satu anggota PEFSI ’13) yang mengusulkan untuk ngadain quality time ’13. Ya sekedar ngumpul-ngumpul dan saling sharing tentang masalah apa pun yang masih berhubungan dengan makhluk-makhluk PEFSI ’13. Ini bukan pertama kalinya,sih. Tradisi beginian juga udah biasa kita adain sejak semester 1. Singkat cerita, tercetuslah ide untuk membuat jiplakan tangan masing-masing di selembar kertas dan kertas itu harus dijalankan ke semua anggota kelas untuk diisi tulisan komentar terhadap yang punya jejak tangan. Tapi, yang nulis komentar gak boleh ngaasih nama. Sayangnya, pas acara itu berlangsung aku gak berada di tempat. Aku sedang sibuk mengurus berkas persyaratan seleksi MAWAPRES tingkat fakultas.

Kamis, 14 Mei 2015

MAWAPRES; Seribu Cerita, Berjuta Makna


Dalam menulis ini, membuatku ingat detik demi detik saat-saat yang berharga dalam hidupku…
***
Pagi itu aku baru sampai di Kota Bertuah, Pekanbaru dari Bumi Raflesia Bengkulu usai mengikuti Lomba Debat Pendidikan Nasional. Tepat 08 April 2015. Meskipun badan masih terasa lelah, aku tetap usahakan untuk masuk kuliah pagi ini. Siangnya, aku dapat kabar dari Kak Putri, sekretaris Dinas Pendidikan BEM FKIP Universitas Riau. Katanya, pihak fakultas bilang kalau naskah KTI harus dikumpul paling lambat sore ini pukul 16.00 WIB. Aku langsung panik, sebab KTI ku masih berantakan, masih belum rampung.
“Kak, aku gak usah ikut lah,ya. Gak sanggup aku nyiapin KTI ni. Datelinenya sore ini. KTI ku masih banyak yang berantakan”, ucapku lirih.
“Heh, usah banyak cakap! Cepat ajalah selesaikan KTI mu tu. Apa lagi yang kurang,ha? Selesai tu, cepat ajalah buat!”. Romi, seniorku yang juga ikut seleksi MAWAPRES tingkat fakultas melempariku dengan bantal kursi yang berserakan di dekat printer BEM FKIP.
Singkat cerita, alhamdulillah berkat restu dan ridho Allah SWT dateline pengumpulan naskah KTI untuk seleksi MAWAPRES fakultas diundur hingga esok pagi, Kamis(09/04/15). Tapi, resikonya adalah Kamis jam 09.00 itu seluruh peserta langsung presentasi KTI di depan dewan juri. Aku kembali panik. Tapi aku berusaha untuk bisa memberikan yang terbaik.
Esok paginya, aku sudah stand by di sekretariat BEM FKIP UR sambil mengerjakan PPT yang akan dipresentasikan nanti. Tapi lagi-lagi Allah Swt mempermudahku, akhirnya seleksi hari itu dibatalkan karena banyaknya peserta yang belum muncul ketika jam telah menunjukkan angka 10.00 WIB.
Akhirnya presentasi KTI dilaksanakan pada Jum’at, 10 April 2015. Dengan persiapan yang singkat namun agak matang dari hari sebelumnya, aku mempresentasikan KTI ku yang berjudul “Phybrasi(Physics Brain Storming); Teknik Kreatif Menumbuhkembangkan Rasa Ingin Tahu Siswa Terhadap Pelajaran Fisika”.
Detik demi detik seleksi itu berlalu. Hingga akhirnya ketika Kak Elysa, MAWAPRES FKIP tahun lalu itu menyebutkan nama Romi sebagai juara 2 dan namaku sebagai juara 1. Awalnya aku hanya terdiam, seolah-olah tak percaya. Tapi kak Elysa langsung memelukku dan membisikkan “ ini calon penerus kakak ni”. Aku masih saja seperti orang bingung. Karena, menurutku saingan seleksi MAWAPRES di FKIP itu lumayan berat. Ada Bang Anggi yang jelas-jelas prestasinya sudah berkali-kali sampai nasional. Ada empat orang anak Bahasa Inggris yang jelas-jela sudah sangat fasih mempresentasikan KTI nya dalam bahasa Inggris. Tapi, Alhamdulillah mungkin inilah amanah Allah Swt untukku. Aku bersama Kak Romi ditugaskan untuk mewakili FKIP ke universitas untuk seleksi MAWAPRES UR 2015. Dalam hati aku bertekad harus bisa lebih baik lagi ketika seleksi tingkat universitas.
***
Sejak dinyatakan sebagai MAWAPRES I FKIP, menjelang seleksi lanjutan ke tingkat universitas aku berasa orang yang diteror pertanyaan kemana-mana. Setiap berjumpa dengan orang di kampus, pasti nanyanya “ Gimana MAWAPRES nya,Nov?”, atau “Eh selamat ya Novi. Gimana ceritanya kemarin seleksi tingkat fakultas?” dan bla bla bla masih banyak pertanyaan lainnya.
Pertanyaan yang unik itu datang dari beberapa orang terdekatku.
“Dek, gimana perasaan adek untuk tingkat universitas besok? Kalau kakak sih maunya tahun ini adek gak usah juara dulu. Biarlah satu tahun ni adek persiapkan dulu ngumpulin prestasi lebih banyak lagi buat jadi juara I tahun depan. Adek maish semester 4 juga. Kalau pun adek juara II atau juara III tahun ini rugi, karena tahun depan adek gak boleh ikut seleksi lagi”, ujar Kak Elys.
Aku hanya menjawab “ Hmmm gimana, ya kak? Ya, Novi maunya pengen juara sih. Tapi kayaknya saingannya berat lah. Haaah yang penting Novi usaha dulu lah kak. Kalau pun nanti misalnya Novi gak dapat juara, artinya Allah nyuruh Novi buat ikut lagi tahun depan. Tapi, kalau misalnya Novi juara tahun ini, entah juara 1 atau 2 atau 3 brarti ada rencana Allah yang lain untuk Novi. Mana tahu tahun depan ada halangan yang membuat Novi gak bisa ikut lagi kan? Atau mana tahu umur Novi gak nyampe lagi buat ikut tahun depan. Hehee.. Wallahuallam,Kak”.
Selanjutnya Bang Okta di waktu yang berbeda.

Jumat, 17 April 2015

Dari Bumi Raflesia Untuk Indonesia


“ Dek, nanti sore kalian berangkat, ya. Tiket nanti dipesan sama Solihin”
“ Emang uang dari fakultas udah cair, Bang?”, tanyaku. Aku tahu betul uang dari fakultas sangat susah cairnya. Padahal kami berangkat juga untuk kepentingan kampus.
“ Belum. Tapi kalian pakai uang abang aja dulu. Abang ada tabungan satu juta. Pakai aja ini untuk ongkos kalian”
“ Nah, terus nanti kami pulangnya gimana? Uang pendaftaran di sana gimana? Biaya makan di sana gimana?” Pertanyaan bertubi-tubi kulontarkan ke Bang Rais, wakil gubernur mahasiswa FKIP. Sebab, kami yang direncanakan akan berangkat belum ada satu pun yang pernah ke Bumi Raflesia itu. Jadi, wajarlah jika ada banyak kekhawatiranku yang muncul.
Melihat pertanyaanku yang berjibun, ia dengan sabar dan tenang menjawab.
“ Udah, jangan pikirkan yang lain-lain dulu. Yang penting kalian berangkat aja. Masalah makan semua ditanggung panitia di sana. Masalah biaya pendaftaran, udah Abang koordinasikan dengan panitia di sana. Masalah ongkos pulang...”.  Ia menghela nafas sebentar. “ Kalian harus menang. Jadi kalau kalian menang nanti hadiahnya bisa jadi untuk ongkos pulang”
Aku sontak kaget. “ Lho, jadi kalau gak menang gimana?”
“ Ya, udah. Kalian gak usah pulang. Jadi orang Bengkulu aja di sana. Tunggu sampai Abang kirimkan uang, ya ”,ujarnya sambil tertawa.
Aku yang mendengar ucapannya hanya bisa geleng-geleng kepala. Antara optimis dan tidak untuk berangkat. Persiapan belum matang, bahkan sama sekali belum ada cari bahan informasi. Ya, walau pun debat adalah salah satu bidang lomba yang tidak asing aku ikuti. Tapi, tetap saja yang namanya sebuah perlombaan harus memiliki persiapan yang matang. Tapi, melihat sikap optimis dan semangat dari wagubma FKIP, dengan modal nekad akhirnya kami berempat putuskan untuk berangkat menuju Bumi Raflesia sore nanti.
***
Kita berangkat jam empat sore nanti.
Kumpul di sekre BEM FKIP jam tiga.
Jangan telat!
Demikian bunyi sms dari sekretaris umum BEM FKIP. Namanya Solihin. Di kampus, ia biasa disapa dengan Pak Sol. Entah karena wajahnya yang ketuaan atau wajahnya terlalu ke-bapakan, yang jelas ia pun selalu menyebut dirinya dengan sebutan Pak Sol. Ia adalah salah satu rekan tim debatku yang juga akan berangkat sore ini ke Bengkulu.

Senin, 09 Februari 2015

Newton vs Einstein


Siapa yang tidak mengenal Einstein? Siapa pula yang tidak mengenal Newton? Dua nama ilmuan ini telah tersohor ke seluruh penjuru dunia. Bagaimana tidak, kecerdasan Einstein dan Newton dalam berbagai temuan ilmiahnya yang dirangkum menjadi teori-teori dan hukum telah memberi pengaruh yang sangat kuat dalam dunia sains, khususnya fisika. Kendati keduanya adalah ilmuan yang sama-sama terkenal di mata dunia, namun ternyata terdapat beberapa pertentangan antara keduanya. Pada tulisan kali ini, saya akan sedikit mengulas perbedaan teori yang dikemukakan oleh dua ilmuan jenius ini yang telah saya rangkum dari beberapa referensi.

Berdasarkan dari beberapa referensi yang saya baca, Albert Einstein berhasil meruntuhkan teori Isaac Newton pada abad ke-19. Setelah Isaac Newton berhasil mengemukakan teorinya tentang gravitasi dan membuat dunia percaya dengan teorinya tersebut, fisikawan lain yakni Albert Einstein menemukan ada kejanggalan dalam teori Newton tersebut. Kejanggalan itu terletak pada ketidakcocokan teori gravitasi Newton dengan teori relativitas khusus yang diajukan Einstein pada tahun 1905.

Dalam teori relativitas khususnya, Einstein berusaha agar teori relativitas khususnya sesuai dengan teori electromagnetik Maxwell. Einstein menyatakan bahwa cahaya memiliki kecepatan sebesar 299,792 km per detik atau yang biasa kita sebut dengan sekitar tiga ratus juta meter per detik (sering ditulis dalam bentuk kerennya: 3.108 meter per detik). Einstein juga mengatakan bahwa kecepatan ini adalah kecepatan absolut. Artinya, benda atau energi lain bisa bergerak mendekati kecepatan ini tetapi tidak akan pernah melebihi kecepatan cahaya. Einstein juga melihat ada prinsip fisika lain yang tidak bersesuaian dengan teori gravitasi Newton. Prinsip ini dikenal dengan prinsip ekuivalen.

Kamis, 05 Februari 2015

The Third Winner !!


Setelah lama vakum menulis di dunia blog dikarenakan kesibukan kampus, kini aku hadir kembali untuk menceritakan beberapa hal yang terjadi dalam hidupku. Sesuatu yang gak penting mungkin bagi orang lain. Tapi sesuatu yang menyenangkan bagiku bisa berbagi tulisan dengan orang lain, walau pun hanya sekedar tulisan yang isinya sekedar cuirhatan gak penting. But, sure that you always stay here to read some of my story. Mana tau, ada tulisan yang bermanfaat bagi kamu. Hihii..

Okay, let's start the story in this page! Jadi ceritanya gini, sekitar beberapa bulan yang lalu (entah November entah Desember 2014) aku kembali terjun ke dunia speech contest. Yap, gak jauh beda dengan tahun sebelumnya (red: 2013), yang ngadain masih fakultas yang sama. Fakultas Teknik Universitas Riau. Masih dalam event yang sama dengan tahun 2013, yaitu Enginering Expo. 

Kalau tahun 2013 aku berhasil meraih juara 1, kali ini turun 2 tingkat alias juara 3 ;') Sedih? Tentu. Kecewa? Gak juga sih. Karena emang wajar rasanya dapat juara 3. Saingannya berat-berat , sedangkan aku kecil (nah lho? -_- ). Berat dalam artian bukan berat badan sih. Hahhaa.. Tapi emang berat dari segi kemampuannya. Kebanyakan peserta yaah seperti biasanya adalah mahasiswa/i yang notabenenya adalah english student. Sedangkan aku adalah satu-satunya Physics Student ;')

Sabtu, 27 Desember 2014

KBK vs KTSP vs K13??

Negeriku Sayang, Kurikulummu Malang
Oleh : Tengku Novenia Yahya



            Kurikulum menjadi trend topik pembicaraan yang hangat diperbincangkan belakangan ini. Berawal dari kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Bapak Anies Baswedan pada awal Desember lalu tentang pemberhentian Kurikulum 2013 dan pemberlakuan kembali kurikulum 2006 atau yang akrab disapa dengan KTSP, hingga kini kurikulum menjadi salah satu pokok permasalahan yang paling disorot hampir di setiap kalangan.

            Sebelum membahas kurikulum lebih lanjut, kita perlu tahu terlebih dahulu defenisi dari kurikulum itu sendiri. Banyak para ahli yang mengemukakan pendapatnya tentang defenisi kurikulum. Namun, pada tulisan ini saya akan mengambil pengertian kurikulum dari sudut pandang yuridis. Menurut UU No. 20 Tahun 2003 yang dimaksud dengan kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Mengacu pada pengertian ini, maka tampak jelas bahwa induk dari proses belajar dan pembelajaran pada sebuah lembaga pendidikan adalah kurikulum. Maka, tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan kurikulum sangatlah penting di dunia pendidikan.